Di tengah hiruk pikuk kemajuan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) yang menjanjikan berbagai kemudahan, organisasi konservasi lingkungan Hijau Alam Banten (HIJAB) menyuarakan keprihatinan mendalam terkait dampak tersembunyi yang krusial: konsumsi air yang masif oleh industri AI. HIJAB menyerukan agar masyarakat dan pemangku kepentingan tidak abai terhadap ancaman lingkungan yang diemban oleh teknologi ini.
Kita seringkali hanya melihat sisi gemerlap AI, namun ada harga lingkungan yang harus dibayar, dan harga itu adalah air. Pusat data yang menjadi otak AI adalah ‘monster’ haus air. Ini adalah krisis lingkungan yang diam-diam mengancam ketersediaan air bersih kita, terutama di wilayah yang sudah rentan kekeringan
– Direktur Eksekutif
Proyeksi Konsumsi Air AI yang Masif
Berdasarkan laporan dan studi terbaru, HIJAB menyoroti fakta mengejutkan bahwa operasional AI membutuhkan air dalam jumlah fantastis. Diperkirakan, satu sesi tanya jawab dengan model AI seperti GPT-3 bisa menghabisiskan setengah liter air, termasuk untuk pendinginan server dan pembangkitan listrik. Proyeksi yang lebih mengkhawatirkan menunjukkan bahwa pada tahun 2027, industri AI global akan mengonsumsi air empat hingga enam kali lipat dari total konsumsi air seluruh negara Denmark dalam setahun.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah alarm bahaya, Air adalah sumber daya vital. Ketika raksasa teknologi membangun pusat data di daerah-daerah yang sudah mengalami kelangkaan air, atau bahkan mengambil air dari sana, itu adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan memperparah ketidakadilan lingkungan.
– Direktur Eksekutif
Ironi Pembangunan Pusat Data di Daerah Kering
HIJAB juga menyoroti bagaimana perusahaan teknologi besar seperti Google, Meta, dan Microsoft menunjukkan peningkatan drastis dalam penggunaan air mereka sejak tahun 2020. Meskipun ada klaim dan target “ramah air” pada tahun 2030, HIJAB menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar.
Bayangkan dampaknya jika pusat data-pusat data ini terus dibangun, apalagi di wilayah yang sudah rentan kekeringan,
– Direktur Eksekutif Wilayah Pandeglang
Meskipun ada upaya untuk mencari alternatif pendinginan atau mendaur ulang air, laju pertumbuhan AI yang masif ini berpotensi menciptakan tekanan luar biasa pada pasokan air bersih, termasuk di wilayah seperti Banten yang memiliki tantangan pengelolaan sumber daya air.
Manfaat Lingkungan vs. Dampak Operasional
Meskipun AI berpotensi membantu dalam solusi lingkungan, HIJAB mengingatkan bahwa manfaat tersebut tidak boleh menjadi pembenaran atas dampak negatif yang ditimbulkan.
Kita tidak bisa membiarkan satu masalah lingkungan diselesaikan dengan menciptakan masalah lingkungan baru.
– Direktur Eksekutif
Hijau Alam Banten menyerukan agar inovasi AI berjalan seiring dengan tanggung jawab lingkungan yang kuat, demi keberlanjutan bumi dan ketersediaan air untuk generasi mendatang.





